Selasa, 23 Maret 2010

Penelitian Pendidikan Akuntansi

PERSEPSI MAHASISWA S1 AKUNTANSI INTERNASIONAL DAN REGULER TENTANG PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAk) PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI (PTN) DAN PERGURUAN TINGGI SWASTA (PTS)

Icuk Rangga Bawono
Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman
Dermawan Sugiarto
Mahasiswa PPA
Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman

Joni Arifin
Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman


ABSTRACT

This study examines the perceptions of students S1 regular accounting and S1 international accounting in Public and Private University in DIY and Purwokerto of Accounting Profession Programs (PPAk). The objective of this research to find out how the perception of S1 regular accounting and S1 international accounting in Public and Private University about PPAk, and whether there are differences in perception because of the difference of information between students and S1 regular accounting and S1 international accounting in Public and Private University in DIY and Purwokerto of PPAk.
Respondents in this study were 359 students, with details of 94 regular students and 27 international students at the Public University, and 153 regular students and 85 international students in Private University. Collecting data is done in April 2009. All the data collected has been tested with the first Test validity (Pearson Moment) and Reliability (Cronbach Alpha). In the first test used hypothetical Test T (t Test), while for the hypothetical second and third test using a different (Independent Sample t Test).
Results of research shows that students have positive perceptions about the Accounting Profession Programs (PPAk) and there is a difference in perception between students S1 regular accounting and S1 international accounting in Public and Private University in DIY and Purwokerto.

Keywords: Accounting Profession Programs (PPAk), professional accountants

LATAR BELAKANG
Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik semakin meluas di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, hal ini telah memberi pengaruh cukup besar bagi pasar tenaga kerja. Permintaan terhadap tenaga kerja profesional (profesi) dalam dunia kerja telah membawa berbagai perubahan dan pembaharuan dalam kesempatan pendidikan. Salah satunya adalah diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) baik di Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta untuk mencetak tenaga akuntan profesional yang handal (Setyaningrum dkk, 2007).
Secara umum, Sarjana Ekonomi akuntansi memiliki berbagai alternatif pilihan serta peluang yang cukup besar untuk memasuki dunia kerja. Namun, kualitas seorang Sarjana Ekonomi akuntansi baru akan teruji manakala ia menempatkan dirinya ke dalam profesi yang berhubungan dengan gelar yang telah ia sandang. Weygandt et al. (1996) dalam Rasmini (2007) menyatakan bahwa pada umumnya profesi akuntansi diperlukan pada empat bidang, yaitu public accounting, private accounting, non-for-profit accounting, dan pendidik.
Profesi akuntan sendiri di Indonesia pada masa yang akan datang akan menghadapi tantangan yang sangat berat. Untuk itu kesiapan yang menyangkut profesionalisme profesi mutlak diperlukan. Selain itu, tantangan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme akuntan dengan tingkat penguasaan yang memadai terhadap tiga syarat untuk profesional, yakni pengetahuan (knowledge), keahlian (skill), dan karakter (character) (Novin dan Tucker, 1993). Karena nantinya para akuntan harus mempunyai kredibilitas dalam menyusun dan melaksanakan review (audit) atas laporan keuangan, yang kemudian hasilnya akan digunakan oleh para pihak yang berkepentingan sebagai dasar pengambil keputusan.
Proses pembentukan profesionalisme berawal dari pendidikan profesi, dalam hal ini pendidikan akuntansi di perguruan tinggi. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, bertujuan menyediakan sumber pengetahuan dan pengalaman belajar (knowledge and learning experience) bagi para mahasiswanya. Pendidikan akuntansi selayaknya diarahkan untuk memberi pemahaman konseptual yang didasarkan pada penalaran sehingga ketika akhirnya masuk ke dalam dunia praktik dapat beradaptasi dengan keadaan sebenarnya dan memiliki resistance to change yang rendah terhadap gagasan perubahan atau pembaruan yang menyangkut profesinya (Suwardjono 1992 dalam Bawono dkk, 2006).
Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) merupakan pendidikan tambahan bagi Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi yang ingin mendapatkan gelar Akuntan. Melalui Surat Keputusan (SK) Mendiknas No. 179/U/2001, Sarjana Ekonomi akuntansi berkesempatan menempuh Pendidikan Profesi Akuntansi di perguruan tinggi yang telah ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Mereka yang telah menempuh Pendidikan Profesi Akuntansi berhak untuk memperoleh sebutan profesi Akuntan (Ak) dan berpeluang untuk menerjuni profesi sebagai public accounting, private accounting, non-for-profit accounting, dan pendidik. Pada umumnya, bidang-bidang yang dapat digeluti oleh para lulusan Sarjana Akuntansi, adalah Staf Akunting (SA), Staf Auditor, Akuntansi Perpajakan, dan Jurnalis (Sumarna, 2002, dalam Rasmini, 2007). Walker (2002) dalam Prakarsa (2004) menyatakan bahwa Akuntan memiliki tiga jenis aktivitas, yaitu (1) oversight, (2) insight, (3) foresight. Sebaliknya, AICPA (2004) menyatakan bahwa karier yang bisa ditempuh oleh seorang akuntan adalah Public Accounting, Corporate Accounting, dan Financial Management.
Saat ini, dengan diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) yang diatur melalui Kepmendikbud No: 056/U/1999 tentang Penyelenggaraan Profesi Akuntansi, yang mulai berlaku 30 Maret 1999 (SY, 1999) baik di Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta, kita perlu mengetahui bagaimana persepsi mahasiswa akuntansi sebagai stakeholder utama atau calon pengguna jasa dalam proses pendidikan profesi tersebut. Persepsi positif akan berpengaruh terhadap perilaku dan sikap mahasiswa yang mendukung adanya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk), begitu juga sebaliknya apabila persepsi yang terbentuk negatif.
Dalam studi ini, diteliti tiga indikator yang mempengaruhi persepsi calon peserta PPAk meliputi mahasiswa S1 Akuntansi, baik program reguler maupun internasional di Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta, yang tentunya terdapat perbedaan karakteristik antara kedua program studi maupun kedua jenis Perguruan Tinggi. Tiga indikator tersebut adalah motivasi, waktu dan biaya, dan minat dengan mengembangkan instrumen kuesioner yang digunakan oleh Bawono dkk (2006). Observasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah ketiga indikator tersebut dapat mempengaruhi persepsi mahasiswa akuntansi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif guna adanya peningkatan kualitas dari setiap Perguruan Tinggi penyelenggara program PPAk untuk menghasilkan lulusan profesi akuntansi sesuai dengan visi misi pendidikan akuntansi. Penelitian ini juga diharapkan dapat menimbulkan cara berpikir kritis dan positif calon lulusan sarjana ekonomi akuntansi baik yang menempuh program reguler maupun internasional, agar tidak hanya menyandang gelar sarjana ekonomi (S.E.), namun juga menunjukkan identitas sebagai lulusan akuntansi (S.E., Ak.).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) apakah mahasiswa S1 Akuntansi internasional dan reguler di PTN dan PTS memiliki persepsi positif tentang pendidikan profesi akuntansi, (2) apakah ada perbedaan persepsi antara mahasiswa S1 Akuntansi internasional dan reguler di PTN mengenai pendidikan profesi akuntansi, dan (3) apakah ada perbedaan persepsi antara mahasiswa S1 Akuntansi internasional dan reguler di PTS mengenai pendidikan profesi akuntansi.

RERANGKA PEMIKIRAN DAN PEMBENTUKAN HIPOTESIS

Persepsi merupakan proses kognitif yang dipergunakan seseorang untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya. Sedangkan menurut Robbins (1993:135), Perception can be defined as aprocess by which individuals organize and interpret their sensory impressions in order to give meaning to their environment. Proses pembentukan persepsi dipengaruhi oleh:
a. Faktor perhatian dari luar, meliputi intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan, gerakan.
b. Faktor dari dalam (internal set factors), yaitu faktor dari dalam diri seseorang yang memiliki proses perspsi antara lain proses belajar (learning), motivasi dan kepribadian.
Pendidikan akuntansi akan dapat dipersepsikan secara paralel dengan praktik akuntansi, termasuk di dalamnya profesi akuntan publik. Akuntan publik merupakan seseorang yang diberikan izin oleh suatu negara bagian untuk menggunakan gelar PA (Public Accountant) atau AP (Akuntan Publik) dan mempraktikkan akuntansi publik.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, profesi diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian keterampilan, kejujuran, dan sebagainya tertentu. Profesi Akuntansi merupakan profesi yang dijalankan oleh orang-orang yang telah mendapatkan gelar BAP (Bersertifikat Akuntan Publik) atau CPA (Certified Public Accountant). Beberapa profesi akuntansi yang telah mendapat sebutan BAP antara lain: Akuntan Publik (AP), Akuntan Sektor Publik (ASP), Akuntan Manajemen (AM), dan Akuntan Pendidik (AP). Mereka yang telah mendapatkan gelar tersebut, dapat mengajukan izin untuk membuka praktik akuntan publik. Profesi akuntansi sebagai pemberi jasa dalam hal informasi keuangan memiliki tiga aspek yang terkait satu sama lain, yakni pendidikan, praktik dan penelitian (Sterling, Bell dan Wright, dalam Bawono, 2006).
Sejak tanggal 31 Agustus 2004 lulusan Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi tidak berhak langsung menggunakan gelar profesi “Akuntansi” (Ak). Sesuai SK Mendikbud R.I. No. 036/U/1993 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi dan Naskah Kerjasama IAI dengan Dirjen Dikti No. 565/D/T/2002 dan No. 2460/MOV/IAI/02, untuk memperoleh gelar Ak seseorang yang menyandang gelar Sarjana Ekonomi (Akuntansi) wajib mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) pada Perguruan Tinggi Penyelenggara yang telah mendapat izin dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Setelah memegang ijazah tersebut lulusan dapat mendaftarkan diri ke Departemen Keuangan R.I., untuk mendapatkan Nomor Register Negara untuk Akuntan dan berhak menyandang sebutan Profesi Akuntan (Ak). Di Indonesia, izin sebagai akuntan publik dapat diberikan setelah lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP).
Dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 179/U/2001 tentang penyelenggaraan Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) mengakibatkan perlu adanya kelanjutan dari pendidikan sarjana program studi akuntansi. Hal ini berpengaruh terhadap masa studi mahasiswa ketika ingin terjun sebagai akuntan publik. Dengan demikian pada saat mahasiswa telah menyelesaikan program S-1, maka mereka dihadapkan pada tiga alternatif. Pertama, bekerja atau terjun ke masyarakat sebagai sarjana ekonomi. Kedua, melanjutkan studi pasca sarjana untuk memperoleh gelar S-2. Atau ketiga, menempuh program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) untuk memperoleh gelar akuntan (Ak), yang merupakan syarat untuk terjun sebagai akuntan publik pada Kantor Akuntan Publik (KAP) (Bawono, 2006).
Menjawab SK Mendiknas No.179/U/2001 tersebut, maka beberapa perguruan tinggi berusaha menyelenggarakan Pendidikan Profesi Akuntansi. Berdirinya PPAk di berbagai perguruan tinggi, baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta, tentunya diikuti dengan adanya sosialisasi kepada mahasiswa S1 akuntansi untuk memberikan pemahaman akan pentingnya pendidikan profesi (profession education) bagi calon akuntan publik. Dalam kurun waktu lebih kurang lima tahun ini, proses sosialisasi baik melalui seminar, studium general, dan media lain diharapkan telah memberikan pemahaman yang masif. Tanpa adanya pemahaman yang masif maka akan berpengaruh pada orientasi dan keinginan mahasiswa akuntansi yang notabene sebagai calon pengguna jasa Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Mahasiswa S1 Akuntansi internasional dan reguler di PTN dan PTS memiliki persepsi positif tentang pendidikan profesi akuntansi.

Peran pendidikan akuntansi sebagaimana dinyatakan dalam Seminar Nasional Akuntansi oleh Prakarsa (2004) adalah (1) menciptakan knowledge workers yang dapat bekerja sama secara sinergis dengan blue-collar workers serta knowledge workers yang lain dalam proses penciptaan nilai tambah, (2) tanggap terhadap peran akuntansi yang cenderung makin multidimensional dan vital pada masa depan, serta (3) mampu memberi bekal kepada para akuntan agar dapat melaksanakan oversight, insight, dan foresight roles yang akan menjadi makin rumit pada masa depan.
Penelitian yang dilakukan Yusuf, 2000 (dalam Yuskar, 2006) untuk mengetahui kualitas lulusan jurusan akuntansi, menyatakan bahwa mutu lulusan dari penerapan kurikulum program S-1 jurusan akuntansi yang berlaku selama ini sering dipertanyakan, lebih-lebih jika bekerja atau membuka kantor akuntan publik. Kemampuan lulusan pada umumnya dipandang kurang memadai. Elemen kualitas atau kompetensi merupakan hal yang sangat diperhatikan dalam profesi akuntansi, khususnya profesi akuntan publik. Bahkan elemen ini dimasukkan dalam Standar Audit. Standar umum auditing yang pertama menyatakan bahwa: Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai seorang auditor.
Munawir, 1999 (dalam Widyastuti, dkk , 2004) menyatakan bahwa kompetensi auditor ditentukan oleh tiga faktor berikut: (1) pendidikan formal tingkat universitas, yaitu dengan menjadi Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi. Namun saat ini diharuskan bagi lulusan Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi baik itu dari Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta untuk mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) sebab PPAk dapat memberikan kontribusi untuk menjadi seorang akuntan yang profesional (2) pelatihan teknis dan pengalaman dalam bidang auditing, antara lain memiliki pengalaman kerja di Kantor Akuntan Publik minimal 3 tahun, dan (3) pendidikan profesional yang berkelanjutan selama menjalani karir sebagai auditor, dengan mengikuti seminar, lokakarya dan Simposium Nasional Akuntansi (SNA).
Profesi akuntan publik merupakan salah satu pilihan karir yang banyak diminati oleh mahasiswa akuntansi. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Wijayanti, 2000 (dalam Yuskar, 2006) yang menyatakan bahwa mahasiswa akuntansi yang memilih karir sebagai akuntan publik mengharapkan gaji awal yang tinggi, memperoleh kesempatan berkembang yang lebih baik dibandingkan dengan karir yang lain serta memperoleh pengakuan atas prestasi yang telah diraih.
Persamaan S-1 Akuntansi program reguler dan internasional baik di PTN dan PTS adalah membangun visi misi dengan sejak dini menggiring minat mahasiswanya untuk mendalami profesi akuntan dengan mengikuti Program PPAk setelah masa studi S-1 selesai. Hal ini selaras dengan visi pendidikan akuntansi yaitu mendidik tenaga akuntan yang cerdas dan ‘utuh’ sebagai insan profesional dan meneliti, mengembangkan serta memasyarakatkan disiplin akuntansi yang sangat vital untuk merealisasikan terbentuknya good corporate and public governance dalam global civil society. Juga selaras dengan misi pendidikan akuntansi yaitu menghasilkan lulusan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kontemporer dunia usaha dan dunia pendidikan akan tenaga staf, tenaga manajer, serta tenaga pendidik profesional (Rasmini, 2007). Namun, perbedaan karakteristik yang ada antara program reguler dan internasional di PTN dan PTS diduga dapat menyebabkan perbedaan persepsi mengenai Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :
H2 : Terdapat perbedaan persepsi antara mahasiswa S1 Akuntansi internasional dan reguler di PTN mengenai pendidikan profesi akuntansi.

H3 : Terdapat perbedaan persepsi antara mahasiswa S1 Akuntansi internasional dan reguler di PTS mengenai pendidikan profesi akuntansi.

METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan responden mahasiswa S1 Akuntansi Reguler dan Internasional di PTN dan PTS yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Purwokerto. Untuk kriteria sampel, dipilih mahasiswa angkatan 2004, 2005, dan 2006, yang minimal telah menempuh 5 (lima) semester dan telah mengambil mata kuliah Auditing. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat keperilakuan (persepsi) karenanya data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber asli tanpa melalui melalui media perantara (Indriantoro, 2002). Horison waktu yang digunakan adalah one shot study. Peneliti mengambil sampel dengan metode simple random sampling dengan batas ketelitian 95% menggunakan rumus Slovin. Metode ini memberikan kesempatan yang sama yang bersifat tak terbatas pada setiap elemen populasi untuk dipilih sebagai sampel (Indriantoro, 2002).

Definisi Operasional Variabel
Variabel-variabel yang diduga mempengaruhi persepsi mahasiswa S-1 Akuntansi Reguler dan Internasional di PTN dan PTS yaitu motivasi, waktu dan biaya, dan minat. Adapun definisi operasional tiap-tiap variabel adalah sebagai berikut :
1. Motivasi (X1), yaitu dorongan yang timbul dalam diri seseorang untuk menerjuni profesi akuntansi dengan gelar BAP (Bersertifikat Akuntan Publik) atau CPA (Certified Public Accountant), dan dalam hal ini dorongan untuk mengikuti pendidikan profesi akuntansi (PPAk). Variabel ini diukur dengan sembilan item pertanyaan.
2. Waktu Belajar dan Biaya (X2), yaitu pertimbangan terhadap lamanya waktu belajar yang ditempuh selama pendidikan dan biaya yang harus dikeluarkan saat mengikuti pendidikan profesi akuntansi (PPAk). Variabel ini diukur dengan delapan item pertanyaan.
3. Minat (X3), yaitu keinginan mahasiswa akuntansi untuk mengikuti PPAk setelah melihat, mengamati dan membandingkan, serta mempertimbangkan dengan kebutuhannya, dia merasa perlu untuk mengikutinya. Variabel ini diukur dengan tujuh pertanyaan.
Variabel dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang diadopsi dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bawono, dkk (2006). Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Likert Scale dengan skala 1 sampai 5, dan telah diuji dengan validity and reliability test. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat perbedaan antar kelompok responden, karenanya pengujian yang digunakan adalah uji beda (t-test).

Pembahasan
Hipotesis I
Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) penting bagi mahasiswa jurusan akuntansi, sebab PPAk memberikan kontribusi yang besar untuk menjadi seorang akuntan yang profesional. Mahasiswa S1 akuntansi reguler dan internasional di PTN dan PTS mempersepsikan positif adanya program PPAk. Namun perlu disadari, bahwa responden memiliki cara pandang yang cermat dan berbeda untuk menyikapi variabel-variabel yang diujikan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Bawono, dkk (2006).

Hipotesis II dan Hipotesis III
Beda persepsi terhadap variabel motivasi timbul karena secara umum Sarjana Ekonomi akuntansi memiliki berbagai alternatif pilihan serta peluang yang cukup besar untuk memasuki dunia kerja dan berprofesi sebagai akuntan publik setelah mengikuti PPAk. Salah satunya adalah untuk mempersiapkan karier dalam bidang akuntansi, atau bahkan karena responden merasa menjadi akuntan adalah pekerjaan bergengsi dan berpenghasilan tinggi. Namun keinginan untuk menempuh program PPAk dan menggeluti profesi sebagai akuntan semua itu tidak terlepas dari kesiapan menyangkut profesionalisme profesi yang nantinya mutlak diperlukan. Profesionalisme suatu profesi mensyaratkan 3 hal utama yang harus dimiliki oleh setiap anggota profesi tersebut yaitu keahlian (skill), karakter (character), dan pengetahuan (knowledge). Motivasi untuk menggeluti profesi akuntan dan auditor itulah yang kemudian ditanamkan selama mengikuti program PPAk.
Kemudian berdasarkan surat keputusan KERPPA Nomor : KEP-003/SK/KERPPA/IAI/II/2006 tanggal 14 Februari 2006 tentang penetapan pemutakhiran silabus dan kurikulum PPA tahun 2006, mensyaratkan penyelenggaraan PPA meliputi paling sedikit 21 sks dan paling banyak 40 sks yang ditempuh selama 2 sampai dengan 6 semester. Penyelenggaraanya pun pada Perguruan Tinggi Penyelenggara yang telah mendapat izin dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) baik itu Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta, yang tentunya akan menetapkan tarif yang berbeda sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Artinya, akan ada tambahan waktu dan biaya yang dibutuhkan oleh Sarjana Ekonomi akuntansi manakala dia mengikuti program PPAk agar dia bisa memperoleh gelar Akuntan (Ak.) dan berprofesi sebagai akuntan. Adanya beda persepsi mahasiswa akuntansi reguler dan internasional di PTN yang timbul dalam menyikapi variabel Waktu Belajar dan Biaya karena responden memandang banyaknya ilmu yang diperoleh sebanding dengan tambahan waktu selama mengikuti program PPAk. Responden juga memandang bahwa biaya mengikuti PPAk lebih murah dan terjangkau dibanding dengan biaya pendidikan profesi lainnya, serta mereka juga beranggapan positif bahwa biaya tidak menjadi masalah bagi mahasiswa yang berstatus non freshgraduate serta sebanding dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh. Namun tidak demikian dengan mahasiswa akuntansi reguler di PTS, tidak adanya perbedaan persepsi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa responden dalam kelompok ini telah memperoleh informasi yang memadai tentang waktu belajar dan biaya mengikuti program PPAk.
Beberapa hal perlu dipahami dan diperhatikan oleh Perguruan Tinggi Penyelenggara PPAk yang berkaitan dengan masalah waktu belajar dan biaya, yaitu sosialisasi mengenai manfaat dan hal-hal yang diperoleh ketika responden mengikuti program PPAk karena responden telah mengeluarkan sejumlah biaya, serta fasilitas dan kurikulum memadai yang harus diberikan selama mahasiswa mengikuti program PPAk.
Diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi sedikit banyak juga telah mempengaruhi minat dan persepsi mahasiswa akuntansi terhadap profesi akuntan, terutama akuntan publik. Munculnya beda persepsi pada variabel Minat menunjukkan bahwa responden memiliki alasan ketertarikan yang bervariasi. Responden memandang bahwa kurikulum materi PPAk akan lebih meningkatkan profesionalisme para lulusan akuntan, terlebih setelah kurikulum tersebut dibuat mengikuti perkembangan dunia internasional. Hal ini yang menjadi dorongan bagi lulusan akuntansi untuk meneruskan ke jenjang program PPAk.

SIMPULAN DAN SARAN
1. Berdasarkan perbandingan skor dan perhitungan Z observasi dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima, atau dengan kata lain mahasiswa S1 Akuntansi Internasional dan Reguler di PTN dan PTS di Daerah Istimewa Yogjakarta dan Purwokerto mempunyai persepsi yang positif mengenai Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Artinya bahwa mahasiswa S1 Akuntansi Internasional dan Reguler di PTN dan PTS di Daerah Istimewa Yogjakarta dan Purwokerto telah memiliki persepsi dengan mengikuti program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) maka kompetensi dan profesionalisme mereka akan lebih teruji manakala nantinya mereka akan terjun berprofesi sebagai akuntan.
2. Berdasarkan uji t (Independent Sample t Test) yang diujikan terhadap mahasiswa akuntansi regular dan internasional di PTN, ada perbedaan persepsi sebesar 2,371 untuk variable Motivasi, 2,452 untuk variable Waktu dan Biaya, dan 2,966 untuk variable Minat, serta diperoleh hasil probabilitas hitung variable Motivasi, Waktu Belajar dan Biaya, dan Minat lebih kecil dari 0,025, yang artinya kondisi seluruh variable menolak . Ada perbedaan persepsi responden kelompok ini dalam menyikapi penyelenggaraan Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk).
3. Berdasarkan uji t (Independent Sample t Test) yang diujikan terhadap mahasiswa akuntansi regular dan internasional di PTS, ada perbedaan persepsi sebesar 2,463 untuk variable Motivasi, dan 2,320 untuk variable Minat, serta diperoleh hasil probabilitas hitung variable Motivasi, dan Minat lebih kecil dari 0,025. Sedangkan untuk variable Waktu Belajar dan Biaya tidak ada perbedaan persepsi sebesar 1,492, serta memiliki probabilitas hitung diatas 0,025. Namun secara keseluruhan kondisi tersebut telah berhasil menolak . Artinya, hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi responden dalam kelompok ini dalam menyikapi penyelenggaraan Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk).
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian di atas, maka dapat memberikan implikasi sebagai berikut :
1. Adanya persepsi mahasiswa S1 akuntansi reguler dan internasional di PTN dan PTS di wilayah Daerah Istimewa Yogjakarta dan Purwokerto tentang Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) secara positif, itu berarti mahasiswa telah mengetahui tujuan diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi. Hal ini mengandung arti bahwa adanya Pendidikan Profesi Akuntansi telah mendapat dukungan yang positif dari kalangan mahasiswa akuntansi, yang notabene sebagai calon pengguna atau pemakai jasa Pendidikan Profesi Akuntansi nantinya.
2. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa responden memiliki persepsi positif terhadap penyelenggaraan PPAk, yang berarti akan menjadi potensi luar biasa bagi berkembangnya Pendidikan Profesi Akuntansi di perguruan tinggi. Namun perlu menjadi perhatian bagi kalangan penyelenggara, karena terdapat perbedaan persepsi responden dalam penelitian ini. Terutama untuk variable yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu Motivasi, Waktu Belajar dan Biaya, serta Minat. Adanya perbedaan persepsi yang terjadi, terutama pada variable yang diteliti tersebut dikarenakan distribusi informasi mengenai penyelenggaraan PPAk yang diterima mahasiswa belum memadai. Ada banyak motivasi mahasiswa untuk mengikuti program PPAk selain mempersiapkan keahlian untuk menjadi akuntan publik. Mahasiswa juga beranggapan bahwa akuntan merupakan pekerjaan bergengsi dan berpenghasilan tinggi. Tapi di satu sisi mahasiswa mengikuti program PPAk agar lebih berkualitas secara ilmu dan kompetensi tanpa harus menjadi akuntan publik. Secara umum mahasiswa juga berpersepsi mengenai tambahan waktu belajar dan biaya untuk mengikuti PPAk. Mahasiswa secara kritis juga mampu memperhitungkan untung rugi serta manfaat dari program PPAk itu sendiri, karena kaitannya adalah ketika saat mereka telah selesai menempuh PPAk apakah mereka bisa langsung mendapatkan pekerjaan, berkarir sebagai akuntan publik, atau melanjutkan ke jenjang S2. Sehingga kedepannya perlu diadakan sosialisasi yang lebih efektif tentang penyelenggaraan PPAk terhadap mahasiswa S1 akuntansi, baik itu regular maupun internasional di PTN maupun di PTS.

REFERENSI

AICPA. 2004. “Position Descriptions”. www.aicpa.org

Aprianti, Diana. 2006. Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Lingkungan Kerja Akuntan Publik (Studi Kasus Pada Universitas Islam Indonesia). Skripsi UII. Yogyakarta.

Bawono, Icuk Rangga. dkk. 2006. Persepsi Mahasiswa S1 Akuntansi Reguler Tentang Pendidikan Profesi Akuntansi (Studi Kasus Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Purwokerto Jawa Tengah). Jurnal Penelitian Akuntansi Universitas Jenderal Sudirman. Purwokerto.

___________________. dkk. 2006. Persepsi Mahasiswa S1 Akuntansi Reguler Dan Ekstensi Tentang Pendidikan Profesi Akuntansi (Studi Kasus Pada Perguruan Tinggi Negeri Dan Swasta “M” Di Kota Purwokerto Jawa Tengah). Jurnal Penelitian Akuntansi Universitas Jenderal Sudirman. Purwokerto.

Djarwanto Ps dan Pangestu S. (2000). Statistik Induktif, Edisi keempat, Cetakan Kelima, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 2002, Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, BPFE, Yoyakarta.

Novin, A.M dan Tucker, J.M. (1993). “The Composition of 150 Hours Accounting Program: The Public Accountants Point of Views”. Issues in Accounting Education (Fall): 272-291.

Prakarsa. 2004. “Profesi Akuntan: Peluang dan Tantangan Menyongsong Era Magister dan Doktor Ilmu Akuntansi di Indonesia”. Disampaikan pada Seminar Nasional Akuntansi, dalam rangka Atmajaya Accounting Fair, 16--19 Februari 2004.

Rasmini, Ni Ketut. 2007. Faktor-faktor Yang Berpengaruh Dalam Keputusan Pemilihan Profesi Akuntan Publik dan Non Akuntan Publik Pada Mahasiswa Akuntansi Di Bali. BULETIN STUDI EKONOMI Volume 12 Nomor 3 Tahun 2007. Jakarta.

Robbins, Stephen P. (1993). Organizational Behaviour. Sixth Edition. Prentice-Hall International Inc.

Santoso, Singgih. 2008. Panduan Lengkap Menguasai SPSS 16.Cetakan Pertama, PT Elex Media Komputindo, Gramedia, Jakarta.

Setyaningrum, Betty Yuli & Noval Adib. 2007. Pengaruh Pendidikan Profesi Akuntansi Terhadap Minat dan Persepsi Mahasiswa Jurusan Akuntansi Pada Karir Sebagai Akuntan Publik. Skripsi Universitas Brawijaya. Malang.

Sugiarto, dkk. (2001). Teknik Sampling. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Suliyanto. 2005. Analisis Data Dalam Aplikasi Pemasaran: Ghalia Indonesia, Bogor.

Suwardjono. (1992). Gagasan Pengembangan Profesi dan Pendidikan Akuntansi di Indonesia. Kumpulan Artikel. Yogyakarta: BPFEYogyakarta.

SY. 1999. “Apa itu PPA?”. Media Akuntansi. Edisi 05.

Widyastuti, Suryaningsum dan Juliana. 2004. Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Untuk Mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi.Simposium Nasional Akuntansi VII.

Yuskar dan Ellya Benny. 2006. Pengaruh Motivasi Terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Untuk Mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Simposium Nasional Akuntansi 9. Padang.

1 komentar:

Adi rusdiawan mengatakan...

Sungguh menarik, dan bisa dijadikan acuan bagi saya.
kalau boleh, saya minta kuesionernya lewat email (adirusdiawan@yahoo.co.id)
Atas bantuannya saya ucapkan terimakasih .

Poskan Komentar