Selasa, 16 Februari 2010

AUDIT : Mempertimbangkan Resiko Kecurangan

Resiko kecurangan
Dari materi bab2 bahwa standart auditing yang diterima umum mengharuskan auditor untuk menilai resiko kesalahan pernyataan material sampai kecurangan. Ketika auditor mempertimbangkan resiko bawaan dan resiko pengendalian, auditor juga harus mempertimbangkan resiko kecurangan. Auditor biasanya mempertimbangkan resiko kesalahan pernyataan material dengan membagi dua tipe kecurangan: kecurangan laporan keuangan dan penyalahgunaan asset. Gambar 5-4 menggambarkan segitiga kecurangan yang menggambarkan aspek umum dari seluruh kecurangan, yaitu:
1. Kesempatan untuk melakukan kecurangan.
2. Insentive atau tekanan
3. Kemampuan untuk merasionalisasi kecurangan menjadi konsisten dengan nilai kepantasan internal.
Pada tahap awal audit, tim audit menyewa dalam sesi brainstorming untuk memastikan setiap orang dalam tim audit menyadari faktor-faktor potensi resiko yang dapat meningkatkan resiko kecurangan.
Contoh umum kecurangan laporan keuangan mengakibatkan penadapatan yang lebih besar dari sebenarnya. Pertama, kecurangan laporan keuangan biasanya mengakibatkan beberapa level manajemen mengesampingkan pengendalian internal (pengendalian resiko) yang memperbolehkan kesempatan untuk manajer akuntansi salah menyatakan pendapatan. Kedua, hal itu biasanya mengakibatkan dorongan dalam bonus atau tekanan yang signifikan dari menajer senior untuk terget pendapatan (resiko bawaan).
Sama halnya, penyalahgunakan asset menyebabkan faktor kecurangan umum yang sama. Biasanya penyahgunaan asset berhubungan dengan kesempatan yang diciptakan oleh pemisahan kemiskinan dari kewajiban dan kemiskinan atau pengendalian internal yang tidak efektif (resiko pengendalian tinggi).

Mengembangkan strategi audit pendahuluan
Auditor kadang membuat keputusan pendahuluan tentang komponen model resiko audit dan mengembangkan strategi pendahhuluan untuk mengumpulkan bukti-bukti. Dalam audit sekarang ini, auditor mengawali audit dengan pengalaman sebelumnya pada suatu entitas. Setelah memperbaharui pengetahuan perubahan-perubahan dalam entitas dan lingkungan, dan menjalankan sedikit prosedur rencana audit awal, auditor mungkin harus memulai untuk mengembangkan harapan apakah pengendalian internal melanjutkan untuk berfungsi sesuai diharapkan, dan apakah faktor lain tetap yang mengkun mengindikasikan potensi kesalahan pelaporan. Auditor kadang mengembangkan strategi audit awal untuk mengaudit asersi.

Memahami pengendalian internal
Auditor diharuskan mendapatkan pemahaman sistem entitas dari pengendalian internal di setiap audit. Auditor menggunakan pemahaman ini untuk:
1. Mengidentifikasi jenis-jenis potensi kesalahan pelaporan.
2. Mempertimbangan faktor-faktor efek resiko meterialitas kesalahan pelaporan.
3. Mendesain bawaan, pemilihan waktu dan luasnya prosedur audit lanjutan.
Pertama, auditor menggunakan pemahaman pengendalian internal untuk mengidentifikasi tipe potensi kesalahan pelaporan yang mungkin terjadi. Contohnya, meninjau sistem pendapatan gereja yang memberikan kontribusi kas yang signifikan. Bawaan penerimaan entitas menciptakan urusan diatas kelengkapan penerimaan.
Kedua, auditor biasanya paham bagaimana sistem pengendalian internal akan mencegah, atau mendeteksi dan mengoreksi, potensi kesalahan pelaporan untuk asersi tiap laporan keuangan. Sistem yang kuat dari pengendalian internal mengurangi potensial kesalahan pelaporan laporan keuangan.
Terakhir, auditor menggunakan pemanaman sistem pengendalian internal untuk mendesain prosedur audit lanjutan untuk mengumpulkan bukti. Contohnya, dokumentasi atau jejak audit elektronik adalah bagian pengendalian internal. Ini penting untuk memahami sitem ini guna mengidentifikasi bukti yang tepat untuk menguji asersi laporan keuangan.

Hubungan faktor resiko dengan potensi kesalahan pelaporan laporan keuangan
Awalnya, auditor harus menghubungkan faktor resiko yang teridentifikasi selama menalankan prosedur penaksiran resiko yang berpotensi pada kesalahan pelaporan pada laporan keuangan. Contohnya, auditor harus memahami apakah kesalahan pelaporan seperti pada penualan dan penerimaan, atau inventori, atau pada akuntasi untuk harta tetap. Auditor juga harus memahami apakah faktor, seperti kelemahan sistem pengendalian internal, apakah masa sekarang akan memberikan efek pada laporan keuangan.

Resiko Level Asersi

Resiko level asersi adalah salah satu yang mempengaruhi satu atau beberapa asersi. Contohnya, klien audit mungkin mempunyai implementasi sistem akuntansi yang baru pada siklus pendapatan tidak menjadi pokok untuk tes yang signifikan dengan data tes. Hal ini berdampak jenis asersi berhubungan pada pengakuan pendapatan dan piutang, tapi tidak akan berdampak melebihi siklus transaksi spesifik. Alternatifnya, auditor mungkin mengidentifikasi resiko bisnis dihubungkan dengan perkenalan teknologi baru yang akan lengkap dengan garis produk utama perusahaa

Resiko Level Laporan Keuangan
Adalah satu dari beberapa faktor resiko berhubungan menembus laporan keuangan secara keseluruhan contohnya, pengendalian lingkungan lemah dimana manajemen tidak menciptakan lingkungan kesadaran pengendalian atau tidak menjaga akuntabilitas manajemen tengah untuk menggunakan sumber daya entitas yang dapat berakibat banyak kelas-kelas transaksi, saldo-saldo akun, asersi. Beberapa kelemahan dalam pengendalian internal akan berakibat pada laporan keuangan. Oleh sebab itu ketika pertimbangan auditor tentang potensi kesalahan pada laporan keuangan, auditor harus mempertimbangkan apakah faktor resiko memiliki dampak pada laporan keuangan atau apakah memiliki dampak khusus pada bagian asersi.

Menentukan Besarnya Potensi Kesalahan
Ketika menaksi resiko bawaan dan pengendalian pada suatu audit klien, auditor harus menentukan besarnya potensi kesalahan yang dihubungkan pada faktor-faktor resiko. Contohnya dalam bisnis untuk mengimplementasi sistem pengendalian internal digunakan pertimbangan biaya dan manfaat dan dalam dunia bisnis beranggapan biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian kesalahan kecil lebih besar dari manfaatnya.
Auditor perlu membedakan antara faktor resiko yang dihubugkan dengan kesalahan yang berpotensi dapat di agregasi kepada jumlah yang material. Contohnya sama seperti persoalan pengakuan pendapatan akan mempunyai pengaruh potensi yang besar kepada laporan keuangan daripada biaya dibayar dimuka. Selanjutnya, penilaian inventori lebih signifikan perusahaan kertas daripada hotel/bank.

Menentukan Kemungkinan Kesalahan Material

Disamping memeriksa besarnya resiko potensial, auditor juga butuh menentukan kemungkinan resiko itu akan menghasilkan kesalahan material pada laporan keuangan. Adalah tugas auditor untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang dihubungkan dengan resiko bawaan yang tinggi dimana kemungkinan kesalahan material dapat dikurangi oleh system pengendalian internal klien. Dalam membuat penaksiran ini auditor terdiri dari resiko bawaan dan resiko pengendalian. Contohnya perusahaan konstruksi mungkin memiliki resiko bawaan yang tinggi sampai kompleksitas estimasi kontrak konstruksi jangka panjang. Beberapa perusahaan konsturksi ukuran sedang juga memiliki pengendalian internal yang lemah. Hasilnya auditor membutuhkan untuk mendesain kecukupan dan kemampuan prosedur audit untuk mrndeteksi kesalahan material.

Menentukan Tingkat Signifikansi Resiko Bawaan

Dalam GAAS auditor harus menentukan mana yang diidentifikasi sebagai resiko dalam pernyataan auditor, signifikan resiko bawaan yang membutuhkan pertimbangan pemeriksaan special. Dalam fase audit selanjutnya, tanggapan dalam penaksiran audit, auditor mengharuskan untuk memberikan perhatian kepada fakta yang beresiko diidentifikasi ebagai resiko bawaaan yang signifikan.
Dalam megidentifikasi resiko bawaan signifikan auditor mempertimbangkan masalah-masalah seperti:
• Apakah resiko itu adalah resiko kecurangan. Contohnya: resiko bawaan signifikan mugkin diindikasi jika auditor merasakan 3 elemen triangle fraud terjadi.
• Apakah resiko itu berhubungan dengan kejadian ekonomi di masa sekarang, akuntansi atau perkembangan lain yang membutuhkan perhatian spesial.
• Kompleksitas transaksi yang dapat memberikan kenaikan resiko.
• Apakah resiko meliputi transaksi signifikan dihubungkan dengan bagian-bagian.
• Tingkat subjektifitas dalam pengukuran informasi keuangan dihubungkan dengan resiko.
• Apakah resiko meliputi transaksi non rutin yang signifikan transaksi non rutin adalah transaksi yang tidak biasa, dapat dilihat dari ukuran/besarnya dan kebiasaan dan jarang terjadi.
• Apakah resiko meliputi masalah keputusan.
• Resiko bisnis signifikan seringkali adalah resiko bawaan signifikan.

FASE III Tanggapan Untuk Resiko Yang Ditaksir
Ketika auditor mengidentifikasi resiko yang kemungkinan dihasilkan dalam kesalahan material dalam laporan keuangan, dia harus membangun respon yang tepat untuk beberapa resiko untuk memastikan resiko audit di perusahaan pada level rendah yang tepat auditor biasanya menanggapi resiko yang ditaksir dengan variasi 4 respon utama. Umumnya respon pada resiko yang ditaksir termasuk keputusan tentang:
• Penempatan dan supervisi
• Dasar tes audit
• Waktu tes audit
• Luas tes audit

Penempatan Dan Supervisi
Keputusan dasar tes audit berhubungan dengan pilihan auditor tentang tipe bukti yang mereka kumpulkan untuk mendukung opini mereka. Ada 3 tipe umum dari prosedur audit:
• Prosedur penaksiran resiko, didesain untuk membantu auditor menilai resiko kesalahan material pada sebuah asersi
• Pengujian pengendalian, didesain untuk menyediakan bukti tentang efektifitas operasi dari beberapa aspek pengendalian interaksi. Pengujian pengendalian menyediakan bukti untuk mendukung penilaian resiko pengendalian dibawah maksimal
• Pengujian substantif, didesain untuk menyediakan bukti tentang kewajaran penyajian dari asersi manajemen dalam laporan keuangan. Substantif tes termasuk:
• Prosedur awal meliputi ketidakpahaman isi ekonomi saldo akun/transaksi yang diaudit.
• Prosedur analitik substantif meliputi kegunaan pembandingan untuk menilai kewajaran asersi.
• Pengujian transaksi detail termasuk pengujian dokumen pendukung untuk transaksi.
• Pengujian saldo akun detail meliputi pengujian pendukung untuk saldo buku besar.
• Pengujian estimasi akuntansi detail meliputi memperoleh bukti dalam mendukung proses estimasi klien dan memastikan proses estimasi diterapkan konsisten dari period eke periode
• Pengujian pengungkapan detail meliputi pengujian pendukung untuk pengungkapan laporan keuangan

Waktu Pengujian Audit

Auditor kadang memilih memodifikasi waktu pengujian audit dengan memilih tes performa pengendalian atau substantif tes saat tanggal sementara. Jika pengedalian internal ditemukan menjadi efektif untuk merespon masalah hanya jika tes relean dengan resiko yang tidak dapat diterima pada kesimpulan auditor dari sampel yang mungkin berbeda dari konklusi yang didapat jika seluruh populasi menjadi subjek pada prosedur audit yang sama

Tanggapan Pada Resiko Bawaan Yang Signifikan
Resiko bawaan yang signifikan timbul dalam kebayakan audit dan berkisar dari beresiko hasil kesalahan material dari resiko bisnis klien sampai transaksi non rutin atau transaksi komplek sampai resiko penilaian tinggi dari audit. Pertama, auditor harus mengevaluasi efektifitas dari desain pengendalian internal dihubungkan kepada seluruh resiko bawaan signifikan. Kedua, jika banana audit pada pengumpulan bukti dari tes pengendalian sampai mengurangi resiko bawaan signifikan, auditor harus menguji efektifitas operasi dari pengendalian relevan di periode audit sekarang. Ketiga, auditor harus melakukan pengujian substantif yang dapat merespon resiko bawaan signifikan.

0 komentar:

Poskan Komentar